Sabtu, 08 Agustus 2015

Perlu “Budaya Menulis Sejarah Misi Gereja” di Tanah Papua

Perlu “Budaya Menulis  Sejarah Misi Gereja” di Tanah Papua

Fakta
Sudah lebih 1,5 abad pekabaran injil di Tanah Papua, negeri  yang  luas, pulau terbesar, namun boleh dibilang yang paling akhir menerima injil, namun faktanya masih sangat terbatas referensi atau buku tentang perjalanan sejarah itu, terutama bagi generasi muda dan generasi yang akan datang .  Pihak gereja dan bahkan juga pemerintah (yang mulai ikut-ikutan) lebih banyak   sibuk dengan  seremonial yang lebih condong kepada dana penyelenggaraan  dan tidak melihat aspek lain yang lebih strategis.  Belum ada cukup buku sejarah pekabaran yang ditulis dalam bentuk cerita yang menarik bagi anak-anak, baik di sekolah formal maupun di sekolah non fomal (sekolah minggu, misalnya).

Di berbagai toko buku juga jarang sekali kita menjumpai berbagai informasi tentang pekabaran injil di Tanah Papua dan juga di Indonesia.  Leih banyak kita jumpai berbagai buku cerita fiksi dan buku-buku lain yang lebih cenderung pada game dan cerita duniawi yang cenderung merusak pikiran anak-anak.
Bila dihitung-hitung biaya untuk kepentingan seremonial yang tidak jarang menghadirkan presiden, menteri, gubernur dan orang-orang VIP lainnya yang membutuhkan penjemputan, pelayanan, keamanan dan lain-lain yang begitu mahal, mengapa tidak juga dipikirkan untuk membentuk tim untuk mencatat semua karya yang sudah dengan susah payah dan banyak pengorbanan jiwa dan raga yang dikerjakan para penginjil pada masa lalu yang hasilnya dinikmati hari ini? Ini bukan hal sepele, namun sangat serius untuk dipikirkan, terutama oleh gereja.  Gereja perlu belajar satu prinsip dalam manajemen, yakni  " kerjakan apa yang ditulis dan tulis apa yang dikerjakan".

Sudah terlalu banyak karya yang diukir oleh para hamba Tuhan dengan air mata, keringat, darah  dan bahkan nyawa, tapi hanya Tuhan yang menghargai semua itu, sedangkan organisasi gereja, pengemban misi Tuhan, masih sedikit menghargai itu dengan kurang mencatat secara teratur semua karya akbar itu. Ada bukti yang bisa ditunjukkan dari kelalaian ini, misalnya pernah ada penyampaian fakta bahwa ada penginjil yang tidak pernah diberikan gaji (honor) sepanjang pelayanannya sampai yang bersangkutan dipanggil oleh Tuhan ke surga.  Bagaimana bisa terjadi seperti itu di lingkungan gereja  yang tidak hanya dikenal tergolong organisasi berdisiplin tinggi, namun juga lembaga yang mengajarkan  pengasihan  terhadap sesame, termasuk kepada para peginjil yang sudah rela berkarya? Jawabannya sederhana, yakni karena  gereja tidak atau belum membiasakan berdisiplin mencatat dengan baik semua informasi yang telah dikerjakan. 

Perlu Mekanisme Pencatatan
Dari berbagai sidang jemaat di kalangan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, misalnya,  tidak muncul pikiran dan gagasan untuk mencatat semua hal yang dikerjakan dan permasalahan yang dihadapi serta perekamannya dalam sebuah "history time line" dan dokumentasinya yang baik.  Ada begitu banyak kegiatan di internal jemaat dan juga antar jemaat antar klasis namun tidak didokumentasikan dengan baik.

Dalam beberapa dekade lalu ada begitu banyak event penting yang terjadi di dalam jemaat, klasis  dan sinode di seluruh Tanah Papua, namun kita tidak bisa membaca kembali semua kejadian itu.  Kalaupun masih ada cerita, itu hanya cerita-cerita berdasarkan ingatan perorangan yang masih diperkenankan Tuhan untuk hidup.  Hanya  sebatas itu.  Misalnya, dimana rekaman peringatan abad 1 (satu) abad masuknya injil di Tanah Papua, pada tahun 1955 atau yang paling dekat peringatan 1,5 abad masuknya injil (HUT  PI) di Papua, pada tahun 2005 lalu?  Paling-paling masih tersimpan foto-foto di dalam album yang mungkin juga tidak terurus dengan baik.  Tidak ada rekamannya dalam bntuk CD atau film atau buku yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Ada banyak tokoh-tokoh gereja yang karismatik dan berhikmat dengan karya dan cerita yang menarik tidak sempat direkam dengan baik.  Sebut saja cerita menarik dari seorang tokoh gereja Bapak Pdt. Hokoka yang begitu cukup terkenal di kalangan GKI, sampai saat ini belum ada buku atau wadah lain yang merekam cerita tokoh yang unik dan sering kontroversial positif dalam perjalanan GKI di Tanah Papua.  Pasti ada banyak cerita menarik dari tokoh-tokoh seangkatan mereka yang bersekolah dan tamat  dari Miei, Teluk Wondama, serta tokoh-tokoh lain dari ODO Serui, JVVS Korido, Fak-Fak, Teminabuan dan lain-lain.  Ini tokoh-tokoh yang memberikan warna menarik dari kemajuan dan peradaban bangsa Papua yang tidak boleh dilupakan.  Bila tidak dicatat, boleh jadi ini sebuah kesalahan (dosa) yang kemudian menjadi hambatan bagi perkembangan di Papua menuju masa depan yang berkilau.

Event paling terbaru , misalnya acara Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) Persekutuan Wanita GKI se Tanah Papua di Jemaat Jayapura dan Sentani,  publikasi dan catatan seputar kegiatan itu  tampaknya tidak dikerjakan dengan baik, padahal melibatkan jumlah peserta yang luar biasa, diperkirakan sekitar 15.000 peserta dari puluhan klasis di Tanah Papua. Disamping kegiatan yang dilaksanakan, jumlah peserta, jumlah uang  yang dipakai dan kejelasannya, kesibukan jemaat-jemaat tuan rumah dan berbagai cerita lain, Kegiatan ini juga bukan untuk pertama kali dilakukan, sudah dilakukan beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya di klasis yang lain (Waropen,misalnya).

Berangkat dari berbagai fakta di atas, baik di dalam lingkup jemaat, klasis dan sionode, disarankan bahwa sebaiknya ada satu departemen di sinode  yang dikhususkan untuk melakukan pekerjaan "tulis apa yang dikerjakan " dalam rangka pertanggungjawaban kepada Tuhan dan jemaat, tetapi juga menjadi suatu catatan sejarah dan bahan pembelajaran bagi generasi mendatang.  Departemen ini bertugas untuk merumuskan mekanisme, pembuatan form dan materi, pelatihan terhadap  kader (di tingkat klasis dan jemaat).  Selajutnya dibentuk departemen/bidang yang sama di dalam tiap klasis dan seterusnya pembentukan urusan di tingkat jemaat.   Pandangan ini tentunya perlu didiskusikan secara matang dalam bentuk lokakarya atau media lainnya dan dibawa dalam sidang klasis dan sinode  untuk diputuskan dalam bentuk keputusan resmi untuk membangun suatu budaya baru yang lebih konstruktif  dan bermartabat.

Saat ini sudah ada begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh teknologi, sehingga semua kejadian dapat direkam, diolah (diedit)  dan dapat dikirim dengan mudah melalui email atau smartphone (hp pintar) yang ada fasilitas foto, youtube, internet, facebook dan lain-lain).  Dengan adanya format dan prosedur yang diatur serta orang-orang terlatih yang dapat mengolahnya menjadi suatu bacaan yang menarik di dalam bentuk buku, website, blog dan lain-lain yang dapat diakses oleh semua orang.  Juga dengan adanya fasilitas penterjemah di internet (google translate), semua informasi ini dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang memungkinkan banyak orang lain di dunia dapat mengetahui aktivitas rohani di bumi "hitam kulit, keriting rambut" di daerah tropis, dekat samudera pasifik, negeri paling timur yang ditulis di dalam alkitab (bible).

Dari beberapa diskusi dengan beberapa anggota jemaat dari beberapa jemaat GKI dan juga jemaat dari denominasi lain, hampir semuanya sama, yaitu belum memiliki catatan sejarah mereka.  Siapa pengagas berdirinya jemaat, alasan-alasan dasar membangun jemaat, tokoh-tokoh penting dan pendukung jemaat mula-mula dan foto-foto mereka, keputusan berdirinya gereja diputuskan dalam forum apa, gambar  kerja awal pembangunan, perkembangan dalam 5 tahun pertama seperti apa dan seterusnya.  Bagi jemaat-jemaat yang lama atau mula-mula, siapa guru jemaat yang datang dan diutus oleh siapa?

Atas dasar semua fakta menyedihkan itu, mestinya diperlukan suatu “deklarasi  penulisan sejarah gereja” yang dimulai dari  jemaat-jemaat sampai di tingkat sinode.  Gerakan semacam ini  penting karena beberapa alasan seperti: (1) perkembangan gereja adalah perjalanan karya Tuhan dimana Tuhan sendiri berada bersama gereja dan memberkati  karya pelayanannya; (2) Papua adalah wilayah yang penuh dengan sejarah interaksi kepentingan politik, sosial, ekonomi dan budaya yang di dalamnya peran gereja tidak dapat diabaikan dan karenanya perlu dicatat agar menjadi suatu pertimbangan pada masa datang; (3) Tanah Papua dimulai bukan dengan nama kaisar, negara atau bisnis, tetapi dimulai dengan hanya satu nama, yaitu Nama “TUHAN YESUS” di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 yang menjadi dasar membangun peradaban  Bangsa Papua; (4) Papua untuk sementara menjadi bagian dari pemerintah dan Negara yang sudah terbukti suka memutar-balikkan fakta sejarah, sehingga berkemungkinan juga akan memanipulasi sejarah gereja bagi kepentingan politik dan ekonomi.
Ada beberapa langkah kongkrit yang dapat diinstruksikan oleh pimpinan gereja kepada klasis dan jemaat untuk membiasakan penulisan sejarah sebagai bagian tak terpisahkan dari pekabaran injil, seperti:
1.     Pada tingkat jemaat perlu didorong agar tiap unsur dan urusan perlu membuat profil keadaan unsur  dan urusan  yang menggambarkan jumlah anggota, keaktifan anggota pada tiap wilayah dan keseluruhan jemaat, masalah yang dihadapi anggota, kebutuhan anggota, program-program yang diperlukan, program yang sudah dilaksanakan dan lain-lain hal yang dipandang penting.
2.     Data dari tiap unsur dan urusan ini dapat dirangkum oleh badan pekerja harian majelis  jemaat (BPHMJ) bersama dengan data lain yang dipandang penting  untuk dirangkum sebagai laporan semester atau tahunan kepada klasis.  Data ini dapat dipakai sebagai bahan evaluasi  perkembangan jemaat-jemaat di dalam klasis bersangkutan sebagai  dasar pembuatan kebijakan.
3.     Data yang dihimpun oleh tiap klasis ini kemudian dirangkum dan disampaikan kepada sinode yang dapat dipakai sebagai bahan evaluasi dan pembauatan kebijakan.  Data ini juga dapat dipakai untuk mencatat hal-hal penting dan strategis dan juga untuk jangka waktu tertentu, misalnya tiap dekade  atau 30 tahun atau 50 tahun (1/2 abad)  untuk menyusun sejarah pelayanan gereja. 

Data  semacam ini bukan hanya penting untuk evaluasi kinerja dan untuk sejarah, namun dapat dipakai sebagai  bahan penelitian  9studi) bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian dan juga sebagai dasar  untuk gereja dalam membangun kerjasama dengan pihak yang lain di lingkungan gereja atau di luar gereja.  Sebagai contoh, bila ada sumber bantuan dari lembaga  tertentu, namun bila mereka ingin mengetahui  permasalahan yang dialami oleh jemaat-jemaat di dalam pelayanan,  maka semua data sebagaimana diungkap  di atas, yang berangkat dari tiap unsur dan urusan di dalam jemaat  akan memberikan gambaran yang detail dan jelas.  Ini  akan membantu pihak gereja di dalam menyajikan materi di dalam berbagai pertemuan nasional, regional  maupun internasional dan juga pembuatan proposal untuk mendapatkan bantaun dari pemerintah maupun non pemerintah.

Diharapkan dengan kesadaran dan kedisplinan yang dibangun dalam hal “kerjakan apa yang dicatat dan catat apa yang dikerjakan”, maka  gereja tidak akan mengikuti jejak kesalahan , kekeliruan dan kegagalan  pemerintah yang banyak kali tidak tertib di dalam hal semacam ini.  Dan atas ketidaktertiban  itu, terjadi ruang-ruang gelap yang memungkinkan praktek korupsi yang merajalela dan hamper-hampir melumpuhkan Negara ini.  Kiranya Tuhan menolong para pemimpin gereja untuk menyadari hal ini , karena tantangan dan ancaman terhadap keberadaan gereja pada masa kini dan ke depan kian berat.  Lebih dari itu, sesungguhnya dengan membangun budaya menulis sejarah gereja di dalam tiap denominasi gereja akan mewujudkan 4 tujuan belajar sejarah gereja yakni: (a) taat kepada firman Tuhan (Ibrani 13:7), (b) kekristenan bukanlah tanpa sejarah; (c) menghindari berbagai kesalahan pada masa lalu, dan (4) memotivasi generasi berikut untuk disiplin membuat sejarah dan juga mencatatnya.  Semoga diberkati Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar