Perlu “Budaya Menulis Sejarah Misi Gereja” di Tanah Papua
Fakta
Sudah lebih 1,5 abad
pekabaran injil di Tanah Papua, negeri yang luas, pulau terbesar,
namun boleh dibilang yang paling akhir menerima injil, namun faktanya masih
sangat terbatas referensi atau buku tentang perjalanan sejarah itu, terutama bagi
generasi muda dan generasi yang akan datang . Pihak gereja dan bahkan
juga pemerintah (yang mulai ikut-ikutan) lebih banyak sibuk dengan
seremonial yang lebih condong kepada dana penyelenggaraan dan tidak
melihat aspek lain yang lebih strategis. Belum ada cukup buku sejarah
pekabaran yang ditulis dalam bentuk cerita yang menarik bagi anak-anak, baik di
sekolah formal maupun di sekolah non fomal (sekolah minggu, misalnya).
Di berbagai toko buku
juga jarang sekali kita menjumpai berbagai informasi tentang pekabaran injil di
Tanah Papua dan juga di Indonesia. Leih banyak kita jumpai berbagai buku
cerita fiksi dan buku-buku lain yang lebih cenderung pada game dan cerita
duniawi yang cenderung merusak pikiran anak-anak.
Bila dihitung-hitung
biaya untuk kepentingan seremonial yang tidak jarang menghadirkan presiden,
menteri, gubernur dan orang-orang VIP lainnya yang membutuhkan penjemputan,
pelayanan, keamanan dan lain-lain yang begitu mahal, mengapa tidak juga
dipikirkan untuk membentuk tim untuk mencatat semua karya yang sudah dengan
susah payah dan banyak pengorbanan jiwa dan raga yang dikerjakan para penginjil
pada masa lalu yang hasilnya dinikmati hari ini? Ini bukan hal sepele, namun
sangat serius untuk dipikirkan, terutama oleh gereja. Gereja perlu belajar
satu prinsip dalam manajemen, yakni " kerjakan apa yang ditulis dan
tulis apa yang dikerjakan".
Sudah terlalu banyak
karya yang diukir oleh para hamba Tuhan dengan air mata, keringat, darah
dan bahkan nyawa, tapi hanya Tuhan yang menghargai semua itu, sedangkan
organisasi gereja, pengemban misi Tuhan, masih sedikit menghargai itu dengan
kurang mencatat secara teratur semua karya akbar itu. Ada bukti yang bisa
ditunjukkan dari kelalaian ini, misalnya pernah ada penyampaian fakta bahwa ada
penginjil yang tidak pernah diberikan gaji (honor) sepanjang pelayanannya
sampai yang bersangkutan dipanggil oleh Tuhan ke surga. Bagaimana bisa
terjadi seperti itu di lingkungan gereja
yang tidak hanya dikenal tergolong organisasi berdisiplin tinggi, namun
juga lembaga yang mengajarkan
pengasihan terhadap sesame,
termasuk kepada para peginjil yang sudah rela berkarya? Jawabannya sederhana,
yakni karena gereja tidak atau belum membiasakan berdisiplin mencatat
dengan baik semua informasi yang telah dikerjakan.
Perlu Mekanisme Pencatatan
Dari berbagai sidang
jemaat di kalangan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, misalnya,
tidak muncul pikiran dan gagasan untuk mencatat semua hal yang dikerjakan
dan permasalahan yang dihadapi serta perekamannya dalam sebuah "history
time line" dan dokumentasinya yang baik. Ada begitu banyak kegiatan
di internal jemaat dan juga antar jemaat antar klasis namun tidak
didokumentasikan dengan baik.
Dalam beberapa dekade
lalu ada begitu banyak event penting yang terjadi di dalam jemaat, klasis
dan sinode di seluruh Tanah Papua, namun kita tidak bisa membaca kembali
semua kejadian itu. Kalaupun masih ada cerita, itu hanya cerita-cerita
berdasarkan ingatan perorangan yang masih diperkenankan Tuhan untuk hidup.
Hanya sebatas itu. Misalnya, dimana rekaman peringatan abad 1
(satu) abad masuknya injil di Tanah Papua, pada tahun 1955 atau yang paling
dekat peringatan 1,5 abad masuknya injil (HUT PI) di Papua, pada tahun 2005 lalu?
Paling-paling masih tersimpan foto-foto di dalam album yang mungkin juga
tidak terurus dengan baik. Tidak ada rekamannya dalam bntuk CD atau film
atau buku yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan
datang.
Ada banyak tokoh-tokoh
gereja yang karismatik dan berhikmat dengan karya dan cerita yang menarik tidak
sempat direkam dengan baik. Sebut saja
cerita menarik dari seorang tokoh gereja Bapak Pdt. Hokoka yang begitu cukup
terkenal di kalangan GKI, sampai saat ini belum ada buku atau wadah lain yang
merekam cerita tokoh yang unik dan sering kontroversial positif dalam
perjalanan GKI di Tanah Papua. Pasti ada
banyak cerita menarik dari tokoh-tokoh seangkatan mereka yang bersekolah dan
tamat dari Miei, Teluk Wondama, serta tokoh-tokoh lain dari ODO Serui,
JVVS Korido, Fak-Fak, Teminabuan dan lain-lain.
Ini tokoh-tokoh yang memberikan warna menarik dari kemajuan dan
peradaban bangsa Papua yang tidak boleh dilupakan. Bila tidak dicatat, boleh jadi ini sebuah kesalahan
(dosa) yang kemudian menjadi hambatan bagi perkembangan di Papua menuju masa
depan yang berkilau.
Event paling terbaru ,
misalnya acara Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) Persekutuan Wanita GKI se
Tanah Papua di Jemaat Jayapura dan Sentani, publikasi dan catatan seputar
kegiatan itu tampaknya tidak dikerjakan dengan baik, padahal melibatkan
jumlah peserta yang luar biasa, diperkirakan sekitar 15.000 peserta dari
puluhan klasis di Tanah Papua. Disamping kegiatan yang dilaksanakan, jumlah
peserta, jumlah uang yang dipakai dan kejelasannya, kesibukan
jemaat-jemaat tuan rumah dan berbagai cerita lain, Kegiatan ini juga bukan
untuk pertama kali dilakukan, sudah dilakukan beberapa kali pada tahun-tahun
sebelumnya di klasis yang lain (Waropen,misalnya).
Berangkat dari berbagai
fakta di atas, baik di dalam lingkup jemaat, klasis dan sionode, disarankan
bahwa sebaiknya ada satu departemen di sinode yang dikhususkan untuk
melakukan pekerjaan "tulis apa yang dikerjakan " dalam rangka
pertanggungjawaban kepada Tuhan dan jemaat, tetapi juga menjadi suatu catatan
sejarah dan bahan pembelajaran bagi generasi mendatang. Departemen ini
bertugas untuk merumuskan mekanisme, pembuatan form dan materi, pelatihan
terhadap kader (di tingkat klasis dan jemaat). Selajutnya dibentuk
departemen/bidang yang sama di dalam tiap klasis dan seterusnya pembentukan
urusan di tingkat jemaat. Pandangan ini tentunya perlu didiskusikan
secara matang dalam bentuk lokakarya atau media lainnya dan dibawa dalam sidang
klasis dan sinode untuk diputuskan dalam bentuk keputusan resmi untuk
membangun suatu budaya baru yang lebih konstruktif dan bermartabat.
Saat ini sudah ada
begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh teknologi, sehingga semua kejadian
dapat direkam, diolah (diedit) dan dapat dikirim dengan mudah melalui
email atau smartphone (hp pintar) yang ada fasilitas foto, youtube, internet,
facebook dan lain-lain). Dengan adanya format dan prosedur yang diatur
serta orang-orang terlatih yang dapat mengolahnya menjadi suatu bacaan yang
menarik di dalam bentuk buku, website, blog dan lain-lain yang dapat diakses
oleh semua orang. Juga dengan adanya fasilitas penterjemah di internet
(google translate), semua informasi ini dapat diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa yang memungkinkan banyak orang lain di dunia dapat mengetahui aktivitas
rohani di bumi "hitam kulit, keriting rambut" di daerah tropis, dekat
samudera pasifik, negeri paling timur yang ditulis di dalam alkitab (bible).
Dari beberapa diskusi
dengan beberapa anggota jemaat dari beberapa jemaat GKI dan juga jemaat dari
denominasi lain, hampir semuanya sama, yaitu belum memiliki catatan sejarah
mereka. Siapa pengagas berdirinya jemaat, alasan-alasan dasar membangun
jemaat, tokoh-tokoh penting dan pendukung jemaat mula-mula dan foto-foto
mereka, keputusan berdirinya gereja diputuskan dalam forum apa, gambar
kerja awal pembangunan, perkembangan dalam 5 tahun pertama seperti apa
dan seterusnya. Bagi jemaat-jemaat yang lama atau mula-mula, siapa guru
jemaat yang datang dan diutus oleh siapa?
Atas dasar semua fakta
menyedihkan itu, mestinya diperlukan suatu “deklarasi penulisan sejarah gereja” yang dimulai
dari jemaat-jemaat sampai di tingkat
sinode. Gerakan semacam ini penting karena beberapa alasan seperti: (1)
perkembangan gereja adalah perjalanan karya Tuhan dimana Tuhan sendiri berada
bersama gereja dan memberkati karya
pelayanannya; (2) Papua adalah wilayah yang penuh dengan sejarah interaksi
kepentingan politik, sosial, ekonomi dan budaya yang di dalamnya peran gereja
tidak dapat diabaikan dan karenanya perlu dicatat agar menjadi suatu
pertimbangan pada masa datang; (3) Tanah Papua dimulai bukan dengan nama
kaisar, negara atau bisnis, tetapi dimulai dengan hanya satu nama, yaitu Nama
“TUHAN YESUS” di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 yang menjadi dasar
membangun peradaban Bangsa Papua; (4)
Papua untuk sementara menjadi bagian dari pemerintah dan Negara yang sudah
terbukti suka memutar-balikkan fakta sejarah, sehingga berkemungkinan juga akan
memanipulasi sejarah gereja bagi kepentingan politik dan ekonomi.
Ada beberapa langkah kongkrit
yang dapat diinstruksikan oleh pimpinan gereja kepada klasis dan jemaat untuk membiasakan
penulisan sejarah sebagai bagian tak terpisahkan dari pekabaran injil, seperti:
1. Pada tingkat jemaat perlu didorong agar tiap unsur
dan urusan perlu membuat profil keadaan unsur dan urusan yang menggambarkan jumlah anggota, keaktifan
anggota pada tiap wilayah dan keseluruhan jemaat, masalah yang dihadapi
anggota, kebutuhan anggota, program-program yang diperlukan, program yang sudah
dilaksanakan dan lain-lain hal yang dipandang penting.
2. Data dari tiap unsur dan urusan ini dapat
dirangkum oleh badan pekerja harian majelis jemaat (BPHMJ) bersama dengan data lain yang
dipandang penting untuk dirangkum
sebagai laporan semester atau tahunan kepada klasis. Data ini dapat dipakai sebagai bahan
evaluasi perkembangan jemaat-jemaat di
dalam klasis bersangkutan sebagai dasar pembuatan
kebijakan.
3. Data yang dihimpun oleh tiap klasis ini kemudian
dirangkum dan disampaikan kepada sinode yang dapat dipakai sebagai bahan
evaluasi dan pembauatan kebijakan. Data ini
juga dapat dipakai untuk mencatat hal-hal penting dan strategis dan juga untuk
jangka waktu tertentu, misalnya tiap dekade atau 30 tahun atau 50 tahun (1/2 abad) untuk menyusun sejarah pelayanan gereja.
Data semacam ini bukan hanya penting untuk evaluasi
kinerja dan untuk sejarah, namun dapat dipakai sebagai bahan penelitian 9studi) bagi mahasiswa yang akan melakukan
penelitian dan juga sebagai dasar untuk
gereja dalam membangun kerjasama dengan pihak yang lain di lingkungan gereja atau
di luar gereja. Sebagai contoh, bila ada
sumber bantuan dari lembaga tertentu,
namun bila mereka ingin mengetahui
permasalahan yang dialami oleh jemaat-jemaat di dalam pelayanan, maka semua data sebagaimana diungkap di atas, yang berangkat dari tiap unsur dan
urusan di dalam jemaat akan memberikan
gambaran yang detail dan jelas. Ini akan membantu pihak gereja di dalam menyajikan
materi di dalam berbagai pertemuan nasional, regional maupun internasional dan juga pembuatan
proposal untuk mendapatkan bantaun dari pemerintah maupun non pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar